Tanggapan Statistika Dalam Kehidupan Industri

17 02 2009

Dari kasus di http://kuliahbersama.com/?p=94 pendapat saya adalah sebagai berikut:

Menurut saya dalam suatu perusahaan itu perlu adanya cara-cara yang memudahkan untuk menyimpulkan informasi untuk dapat menyimpulkan sesuatu menjadi lebih sederhana. Konsep mean, median, mode, varian, dan standar deviasi adalah merupakan metode yang baik digunakan.

Mean adalah merupakan perhitungan rata-rata pada suatu data. Ini diperlukan untuk dapat mengetahui informasi akan rata-rata dari barang/produk yang terproduksi atau terjual misalnya, sehingga dapat membantu dalam pengambilan keputusan.

Median adalah merupakan salah satu pembagian setengah-setengah, dimana setengahnya adalah bagian terendah dan setengahnya lagi adalah nilai tertinggi, dimana dengan kita juga menentukan nilai tengah dari suatu data atau informasi sebagai pembatas dari dua kubu tersebut. Median dapat berguna untuk melihat pembagian yang terjadi mana yang tertinggi dan mana yang terendah. Sehingga dapat memudahkan kinerja perusahaan untuk memperhatikan produksi apa yang dapat memberi nilai yang baik dan mana yang tidak.

Mode adalah merupakan nilai yang paling sering muncul dalam suatu data atau informasi yang kita peroleh. Mode merupakan salah satu konsep sederhana juga dalam menarik kesimpulan kinerja di industri. Misalnya kita punya data-data dari proses produk yang ada dan kinerja setipa pekerja industri, kita dapat mengankap informasi penting disini dengan melihat nilai yang sering muncul. Seperti kalau di proses kesekian misalnya data mesin nganggur paling banyak muncul sehingga kita bisa mendapat info yang penting dan membantu disini.

varians adalah perhitungan terhadap varian dari data atau informasi itu. dalam varian kita dapat melihat data-data yang dapat membantu kita untuk melihat apa yang perlu dalam kinerja kita di sehari-hari

Standar Deviasi merupakan ukuran sederhana yang variabilitas. Standar deviasi yang rendah menunjukkan bahwa semua data yang sangat dekat dengan nilai yang sama (yang artinya) sementara standar deviasi yang tinggi menunjukkan bahwa data yang “menyebar” lebih besar rentang nilai.

Jadi konsep-konsep diatas dibutuhkan untuk menentukan penarikan kesimpulan atas kinerja-kinerja dalam industri.

referensi : http://www.wikipedia
.com





Konsep Statistika dalam kehidupan

31 01 2009

Dalam kehidupan kita sehari-hari kita tak bisa lepas dari perhitungan, apalagi yang berhubungan denagan numerik. Kita pasti sudah mengenal atau mendengar yang namanya “statistika”.

Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data.

Istilah ‘statistika’ (bahasa Inggris: statistics) berbeda dengan ‘statistik’ (statistic). Statistika merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedang statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data.

Statistika ini banyak sekali digunakan untuk membantu kehidupan kita sehari-hari. Digunakan bisa dalam biologi, sains, teknik, psikologi, astronomi, bisnis dan masih banyak lagi. Kita ambil satu contoh dalam berbisnis setiap orang menggunakan konsep statistika, contohnya dalam saham. Dalam perhitungan saham setiap orang melihat peluang yang bisa muncul dan memperhitungkannya dengan data yang ada apakah dapat memberi manfaat/keuntungan atau tidak, lalu kemudian mereka memberi keputusan.

Tanpa kita sadari dari hal-hal sederhan sebenarnya kita sudah berhubungan dengan “konsep statistika” itu sendiri. Misalnya kita melihat dua barang yang menarik tapi kita hanya bisa memilih salah satu kemudian kita melihat kira-kira mana yang cocok mencari informasi mana yang lagi mode lalu melihat manfaat ke diri kita itu apa, dalam kasus ini sebenarnya kita sebenarnya sudah menerapkan statistika itu sendiri dengan melihat peluang yang ada, informasi serta data-data yang ada dan kemudian membuat kita memustuskan sesuatu. Disini kita juga menganalisis dari kedua benda itu.

Contoh lain juga kita bisa lihat dalam pengaturan pengeluaran kita ataupun pemasukan. Disini kita menerapkan konsep statistika dengan mengatur kira-kira seminggu aku mengeluarkan biaya berapa? Berapa presentase pengeluaran per sekali jalan ? Dan juga kita menginterpretasikan kira-kira dengan uang segini saya harus bagaimana atau sesuai tidak dengan pemasukan kita?

Tanpa kita sadari konsep itu sendiri sudah kita terapkan dan sangat dekat dalam kehidupan kita. Kita menebak cuaca, melihat suatu kemungkinan baik di sekolah ataupun ujian. Jadi, konsep statistika itu sangat berperan dalam kehidupan kita baik untuk mengambil sebuah keputusan maupun untuk melakukan suatu aktivitas.





Tanggapan Sifat Eksperimental Rekayasa

17 11 2008

Diambil dari http://http://kuliahbersama.com/?p=29

    Tanggapan saya, berdasar artikel di atas ialah menurut saya mungkin dengan adanya design alat hitung seperti itu mungkin tidak akan adanya kesulitan dalam menghitung suara dalam pemungutan suara. Dalam perhitungan suara normal kita harus menunggu dan harus sangat teliti untuk menghitung suara agar tidak ada yang terjadi kesalahan dalam perhitungan setiap suara yang diambil. Hal ini mungkin secara besar berpengaruh akan keefektivannya. Dalam kasus seperti ini dibutuhkan teknologi yang dapat membantu agar banyak waktu tak terpakai yang di reduksi.

    Teknologi zaman ini sudah semakin “membooming” sehingga kita dapat dibantu untuk beberapa masalah yang ada. Contohnya seperti alat penhitung suara di atas kita memang dapat menghitung suara dengan tidak ada masalah karena dengan cepat semua bisa terhitung dan teratasi. Tapi ada masalah yang harus kita lihat akibat dari sebuah teknologi, tidak selamanya suatu teknologi berjalan seiiring dengan etika. Dalam mesin hitung suara kita memang bisa menghitung dengan begitu cepat tanpa ada kendala. Tapi, kita harus tahu bahwa bisa terjadi penyelewengan dengan mesin itu.

    Contoh yang bisa terjadi adalah misalnya dalam suatu perhitungan suara dengan hanya menggunakan mesin bisa terjadi banyak kecurangan misalnya yang seharusnya sudah memberi suara ke orang lain secara sengaja dan curang karena dihitung berdasar angkat tangan mendukung orang lain juga sehingga sebenarnya secara hukum itu tidak sah. Atau bisa saja karena perhitungan yang seperti itu bisa menyebabkan banyak orang yang takut dan merasa tidak trerjaga kerahasiaanya karena mereka mengangkat tangan agar mesin itu dapat menghitung.

    Jadi pada intinya segala sesuatu baik dibilang teknologi yang paling hebat pun atau yang bisa mempermudah manusia, tidak akan selalu mendukung setiap tindakan dan rancangan kita. Karena dalam setiap kita bertindak haruslah dilandasi etika yang dapat mengatur hidup kita dan keselarasan dalm bermasyarakat. Palagi kita lihat sekarang di indonesia, tanpa lat yang canggih itu pun sering terjadi penyelewengan suara dan bentrok sana-sini. Aplagi dengan mesin penghitung suara yang seprti kasus diatas. Mungkin secara fisik mesin itu tidak ada masalah dan lancar-lancar saja. Tapi bagian dalamnya seringkali yang bermasalah.





Tanggapan Experimen dalam Etika Rekayasa

10 11 2008

Dari kasus di http://kuliahbersama.com/?p=11

Menurut saya berdasar dari artikel yang diberikan, bahwa dalam suatu eksperimen kita lebih harus melihat lbih luas lagi akan dan lebih cermat dalam eksperimen yang kita buat. Dalam bereksperimen manusia pasti yang menjadi lingkupannya, jadi diperlukan ketelitian dan peran moran dalam eksperimen.

Karena dalam hal ini kita berhubungan dengan manusia dimana kita harus melibatkan hati kita dan akal budi dan etika melingkupi keseluruhan sikap dalam bereksperimen, karena dengan adanya landasan etika kita bisa mendapat kepercayaan dari masyarakat. Kita harus mengutamakan sikap atau tindakan yang berdasar pada etika yang memberi pengertian dan makna mana yang baik mana yang tidak baik.

Karena dalam bereksperimen tanpa adanya landasan etika maka bisa terjadi ketidak seimbangan akan hasil eksperimen itu sendiri dengan keuntungannya bagi orang lain, kalau tidak dilandasi etika itu bisa memberi suatu akibat yang tidak baik bagi manusia. Jadi diperlukan etika dalam eksperimen agar dapat jelas dan pasti arah jalannya ekperimen itu sendiri.





Etika Rekayasa

27 10 2008

Kepedulian etis di kalangan rekayasawan baru lahir pada akhir abad ke-19.

Etika

rekayasa dipahami sebagai daftar atau rumusan anjuran-anjuran resmi dalam bentuk

kode, petunjuk, dan opini dari organisasi-organisasi profesi. Telaah implikasi rekayasa

bagi umum baru dimulai pada tahun 1970-an dan etika rekayasa pun menjadi kajian

interdisipliner yang melibatkan teori filsafat, ilmu sosial, hukum, dan bisnis. Selanjut-

nya, artikel-artikel tentang etika rekayasa dalam arti luas baru diterbitkan pada tahun

1981-an terutama oleh Business and Professional Ethics Journal (Martin & Schinzinger,

1994).

Perhatian terhadap etika rekayasa boleh dikatakan terlambat, hal ini terjadi kare-

na masyarakat menganggap rekayasawan sebagai alat produksi saja, bukan sebagai

seorang pengambil keputusan yang bertanggungjawab. Saat ini sebagian masyarakat

telah memahami bahwa proses dan produk kerekayasaan (teknologi) merupakan hasil

dari kreativitas personal. Juga telah disadari bahwa nilai moral, perilaku dan kemam-

puan sang rekayasawan akan sangat mempengaruhi nilai kreasinya; semakin baik nilai

moral seorang rekayasawan, biasanya semakin tinggi nilai keselamatan penggunaan

hasil rekayasanya.

Berangkat dari kesadaran tersebut di atas, etika rekayasa menjadi hal yang pent-

ing dan perlu selalu dikaji oleh seorang rekayasawan agar memahami batas-batas

tanggungjawabnya. Dengan studi etika rekayasa seorang rekayasawan diharapkan

dapat meningkatkan kemampuan penalarannya agar lebih efektif di dalam mencari

jawaban atas pertanyaan-pertanyaan moral. Jadi tujuan etika rekayasa adalah un-

tuk meningkatkan otonomi moral, yaitu kemampuan untuk berpikir secara rasion-

al tentang isu-isu moral berlandaskan kaidah-kaidah moral yang berlaku

Etika rekayasa bisa didefinisikan sebagai berikut.


(1) Studi tentang soal-soal dan keputusan moral yang menghadang individu dan

organisasi yang terlibat suatu rekayasa.

(2) Studi tentang pertanyaan-pertanyaan yang erat berkaitan satu sama lain

tentang perilaku moral, karakter, cita-cita, dan hubungan orang-orang dan

organisasi-organisasi yang terlibat dalam pengembangan teknologi (Martin &

Schinzinger, 1994).

Jadi jelas obyek studi rekayasa adalah permasalahan moral yang berkait erat den-

gan kerekayasaan. Rekayasa pada kenyataannya lebih banyak berlangsung di dalam

perusahaan-perusahaan yang mencari keuntungan, dan perusahaan-perusahaan di-

maksud tertanam di dalam struktur masyarakat dan peraturan pemerintah yang rumit,

sehingga permasalahan atau aspek-aspek moral di dalam rekayasa menjadi semakin

kompleks.

Menimbang keterkaitan banyak pihak di dalam rekayasa; mulai dari pemilik ide, per-

ancang sampai dengan pengguna teknologi; maka etika rekayasa dapat didefinisikan

pula sebagai berikut: Etika rekayasa adalah studi tentang permasalahan dan perilaku

moral, karakter, cita-cita orang secara individu dan ataupun secara berkelompok yang

terlibat dalam perancangan, pengembangan dan penyebarluasan teknologi.

Di dalam pembahasan etika rekayasa selanjutnya akan dibagi menjadi beberapa hal,

yaitu: etika, rekayasa dan teknologi yang merupakan kata kunci di dalam definisi etika

rekayasa.

3. ETIKA

Kata etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang secara sempit berarti aturan atau

tindakan susila (Runes, 1981). Kata ethos diperkirakan telah dikenal paling tidak sejak

5 abad SM (sebelum Masehi) dan telah ditulis oleh para filsof Yunani seperti Aris-

toteles, Plato dan Sokrates. Menurut para filsof Yunani saat itu, ethos memiliki arti

perilaku adat istiadat (Bourke, 1966). Seseorang dikatakan baik atau buruk bukanlah

dilandaskan atas satu tindakannya saja, melainkan atas dasar pola tindakannya secara

umum. Jika arti ethos adalah perilaku adat istiadat maka dapat ditafsirkan bahwa hal

ini sudah dikenal jauh lebih lama lagi seusia kitab-kitab kuno yang telah ada pada abad

ke 25 SM yang menjadi dasar ajaran etika Khong Fu Cu (Sugiantono, 1998).

Etika juga diartikan pula sebagai filsafat moral yang berkaitan dengan studi tentang

tindakan-tindakan baik ataupun buruk manusia di dalam mencapai kebahagiaannya.

Apa yang dibicarakan di dalam etika adalah tindakan manusia, yaitu tentang kualitas

baik (yang seyogyanya dilakukan) atau buruk (yang seyogyanya dihindari) atau nilai-

nilai tindakan manusia untuk mencapai kebahagiaan serta tentang kearifannya dalam

bertindak (Bourke, 1966).

Pendekatan studi etika ada dua, yaitu: pendekatan teoritis yang berkaitan dengan

analisis psikologi dan sosiologi, dan pendekatan praktis yang lebih cenderung mem-

bicarakan petunjuk tentang etika daripada alasan-alasan teoritis tentang etika, sehing-

ga etika pun dapat dipisahkan menjadi dua bagian, yaitu yang berkaitan dengan nilai

(axiologi) dan yang berkaitan dengan keharusan (obligasi atau deontologi).

Menurut Runes (1981) ada dua pertanyaan penting tentang nilai kebaikan. Per-

tanyaan pertama adalah tentang arti suatu nilai dan status suatu kebaikan. Apakah

kebaikan itu bisa didefinisikan atau tidak; jika ya bagaimana.

Aplikasi etika dalam rekayasa dikategorikan menjadi 3, yaitu :

  1. Laporan Penemuan/Rekayasa/Rancang-Bangun

laporan penemuan (invention) memuat:

• Deskripsi alat yang dibuat, manfaat dan kelebihan alat baru/modifikasi

• Desain alat

• Cara membuat (Alat dan bahan) → dituliskan jika memang penelitian sampai taraf pembuatan alat

  1. Penelitian Deskriptif

Secara mendasar, penelitian deskriptif memuat:

• Tujuan Penelitian: apa yang diharapkan menjadi hasil pengamatan

• Desain Penelitian: bagaimana melakukan penelitian, langkah-langkah apa saja

yang akan dikerjakan, alat dan bahan yang diperlukan, data yang diharapkan

dapat didapat, bagaimana meminimalkan kesalahan

  1. Penelitian Eksperimen

Secara mendasar, penelitian Eksperimen memuat:

• Tujuan Penelitian: melihat perbedaan atau hubungan (antar variabel)

• Hipotesis penelitian

• Langkah pelaksanaan penelitian

• Pengumpulan Data

• Analisis Data

• Pembentukan Kesimpulan Penelitian

Metodologi :

Akal budi dan sifat ingin tahu manusia, memampukan dan mendorongnya untuk

melakukan penelitian: mengkaji fenomena yang terjadi di sekitarnya, melakukan

pertimbangan, mengambil keputusan/kesimpulan dan melakukan evaluasi.

1. Pengetahuan (Knowledge)

Secara normatif, definisi Pengetahuan paling tidak meliputi:

• Fakta, informasi dan kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman atau

pendidikan

• Pemahaman secara teoretis dan/atau praktis suatu bidang (studi), apa yang

diketahui mengenai suatu bidang tertentu atau berkait dengan bidang-

bidang lain secara keseluruhan

• Fakta, informasi dan kesadaran atau pengenalan yang diperoleh dari

pengalaman menghadapi suatu fakta atau situasi

Para ahli filsafat masih terus memperdebatkan definisi Pengetahuan, terutama karena rumusan Pengetahuan oleh Plato yang menyatakan Pengetahuan sebagai “kepercayaan sejati yang dibenarkan (valid)” (“justified true belief”).

2. Filsafat (Philosophy)

Berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘Phil’ dan ‘Sophy’

Phil yang berarti Cinta (Love) dan Sophy yang berarti kebijaksanaan, kearifan, hikmat (wisdom)

Pengujian kritis terhadap dasar rasionalitas dari kepercayaan kita yang paling

fundamental dan analisis logis terhadap konsep-konsep dasar yang digunakan dalam mengekspresikan apa yang kita percayai. Filsafat dapat juga didefinisikan sebagai refleksi atas pelbagai pengalaman manusia, atau sebagai upaya pengenalan masalah-masalah yang berkaitan erat dengan kemanusiaan secara rasional, metodikal dan sistematis.

3. Ilmu Pengetahuan (Science)

Kajian sistematik yang menggunakan observasi, eksperimen (percobaan) dan pengukuran terhadap fenomena alam dan sosial, dan bidang kajian lainnya.

Umumnya Ilmu Pengetahuan dicirikan oleh kemungkinan membuat pernyataan benar yang didukung oleh sekumpulan bukti atau pengujian. Karena sifat ini, kebenaran suatu. Ilmu Pengetahuan sangat mungkin mengalami pendefinisian/formulasi ulang/baru

Klasifikasi Ilmu Pengetahuan:

• Ilmu Pengetahuan Eksakta: yaitu Ilmu Pengetahuan yang memiliki pengukuran

(measurement) yang pasti (exact). Contoh: Fisika dan Kimia

• Ilmu Pengetahuan Deskriptif: Ilmu Pengetahuan yang tujuan utamanya adalah

mengembangkan metode pendeskripsian atau klasifikasi yang kemudian menjadi acuan yang tepat dalam domain ilmu tersebut. Contoh: Taksonomi dalam Botani dan Zoologi.

4. Teknologi (Technology)

Teknologi adalah aplikasi Ilmu Pengetahuan terutama untuk tujuan komersial dan

Industri. Teknologi sangat erat dengan Ilmu Pengetahuan dan Rekayasa (Engineering). Ilmu Pengetahuan menyangkut pemahaman manusia terhadap alam semesta dan komponen-komponennya, misalnya ruang angkasa, materi, energi, dan interaksi di antara elemen-elemen tersebut.

Rekayasa adalah aplikasi Ilmu Pengetahuan dalam wujud pembuatan rancangan/disain pelbagai alat demi kemudahan manusia. Teknologi berkaitan dengan alat dan teknik mewujudkan rancangan alat-alat yang memudahkan kehidupan manusia. Penemuan (Invention) pelbagai alat termasuk dalam kajian Rekayasa dan Teknologi

Penerapan etika rekayasa

Penerapan etika terdapat di semua bidang baik dalam bidang medis, bioteknologi, teknologi gen, pengujian dengan menggunakan binatang, memberi peluang rekayasa untuk masuk di dalamnya. Masalah etika akan muncul bila bila dalam desain, konstruksi, dan pemakaian produk secara medis dinyatakan tidak berhasil, tetapi dari gatra hasil penelitian rekayasa benar. Sebab etika rekayasa sendiri adalah studi tentang soal-soal dan keputusan moral, yang mengandung individu dan organisasi yang terlibat dalam rekayasa, dan relasi yang berkaitan dengan perilaku moral, karakter, cita-cita dan interpersoal. Namun penerapan etika rekayasa tidak lepas dari tujuannya sendiri yaitu untuk meningkatkan otonomi moral, yaitu kemampuan untuk berpikir secara rasional tentang isu-isu moral berlandaskan kaidah-kaidah moral yang berlaku.

Obyek studi rekayasa adalah permasalahan moral yang berkait erat den-

gan kerekayasaan. Rekayasa pada kenyataannya lebih banyak berlangsung di dalam

perusahaan-perusahaan yang mencari keuntungan, dan perusahaan-perusahaan di-

maksud tertanam di dalam struktur masyarakat dan peraturan pemerintah yang rumit,

sehingga permasalahan atau aspek-aspek moral di dalam rekayasa menjadi semakin

kompleks.

Referensi

Britannica Concise Encyclopedia (www.answers.com, accessed on Sep, 4, 2007)

Shamoo A and Resnik D. 2003. Responsible Conduct of Research, New York: Oxford

University Press.

ETIKA REKAYASA UNTUK REKAYASAWAN

DR. IR. SUBAGYO PRAMUMIJOYO, DEA

DR. IR. I WAYAN WARMADA

ETIKA PENELITIAN REKAYASA (ENGINEERING RESEARCH)

Suprodjo Pusposutardjo





Konsep Etika

27 10 2008

Konsep Etika

Kata etika berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control“, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok itu sendiri.

Etika disebut juga filsafat moral merupakan cabang filsafat yang berbicara tentang tindakan manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma, diantaranya norma hukum, norma moral, norma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan, norma agama berasal dari agama, norma moral berasal dari suara hati dan norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari.

Etika dan Etiket

Etika (ethics) berarti moral sedangkan etiket (etiquette) berarti sopan santun. Persamaan antara etika dengan etiket yaitu:

·                                 Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilah tersebut dipakai hanya mengenai manusia, tidak mengenai binatang karena binatang tidak mengenal etika maupun etiket.

·                                 Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Adapun perbedaannya adalah :

·                                 Etiket menyangkut cara melakukan suatu perbuatan. Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu. Etika tidak terbatas pada cara melakukan suatu perbuatan, justru etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.

·                                 Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain.

·                                 Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Etika lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.

·                                 Etiket hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu dapat saja bertutur kata dengan lembut, berarti memegang etiket, namun itu dilakukan untuk menipu, berarti mempunyai etika tidak baik. Orang munafik biasanya selalu mempunyai etiket yang baik namun etikanya selalu tidak baik karena apa yang ada di dalam berbeda dengan apa yang dikeluarkan.

Etika dan Moral

Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat

pada sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup. Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia.

Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya).

Pluralisme moral diperlukan karena:

·                                 Pandangan moral yang berbeda-beda karena adanya perbedaan suku, daerah budaya dan agama yang hidup berdampingan

·                                 Modernisasi membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang akibatnya menantang pandangan moral tradisional

·                                 Berbagai ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan, masing-masing dengan ajarannya sendiri tentang bagaimana manusia harus hidup.

Etika dan Moralitas

Etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang mereflesikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai lima ciri khas yaitu

rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif.

Rasional berarti mendasarkan diri pada rasio atau nalar, pada argumentasi yang bersedia untuk dipersoalkan tanpa perkecualian.

Kritis berarti filsafat ingin mengerti sebuah masalah sampai ke akar-akarnya, tidak puas dengan pengertian dangkal.

Sistematis artinya membahas langkah demi langkah.

Normatif menyelidiki bagaimana pandangan moral yang seharusnya.

Etika dan Agama

Etika tidak dapat menggantikan agama. Agama merupakan hal yang tepat untuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi agama itu memerlukan ketrampilan etika agar dapat memberikan orientasi, bukan sekadar indoktrinasi. Hal ini disebabkan empat alasan sebagai berikut:

1. Orang agama mengharapkan agar ajaran agamanya rasional. Ia tidak puas mendengar bahwa Tuhan memerintahkan sesuatu, tetapi ia juga ingin mengerti mengapa Tuhan memerintahkannya. Etika dapat membantu menggali rasionalitas agama.

2. Seringkali ajaran moral yang termuat dalam wahyu mengizinkan interpretasi yang saling berbeda dan bahkan bertentangan.

3. Karena perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat maka agama menghadapi masalah moral yang secara langsung tidak disinggung-singgung dalam wahyu. Misalnya bayi tabung, reproduksi manusia dengan gen yang sama.

4. Adanya perbedaan antara etika dan ajaran moral. Etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional semata-mata sedangkan agama pada wahyunya sendiri. Oleh karena itu ajaran agama hanya terbuka pada mereka yang mengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan pandangan dunia.

Istilah berkaitan

Kata etika sering dirancukan dengan istilah etiket, etis, ethos, iktikad dan kode etik atau kode etika.

Etika adalah ilmu yang mempelajari apa yang baik dan buruk.

Etiket adalah ajaran sopan santun yang berlaku bila manusia bergaul atau berkelompok dengan manusia lain. Etiket tidak berlaku bila seorang manusia hidup sendiri misalnya hidup di sebuah pulau terpencil atau di tengah hutan.

Etis artinya sesuai dengan ajaran moral, misalnya tidak etis menanyakan usia pada seorang wanita.

Ethos artinya sikap dasar seseorang dalam bidang tertentu. Maka ada ungkapan

ethos kerja artinya sikap dasar seseorang dalam pekerjaannya, misalnya ethos kerja yang tinggi artinya dia menaruh sikap dasar yang tinggi terhadap pekerjaannya.

Kode atika atau kode etik artinya daftar kewajiban dalam menjalankan tugas sebuah profesi yang disusun oleh anggota profesi dan mengikat anggota dalam menjalankan tugasnya.

 

 

 

 





Hello world!

26 10 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.